Andai Kita Tahu Rahmat Apa yang Kita Peroleh
Vol. 2 No. 9
BROT
Romo Benedictus Manullang, Pr
3/8/20262 min baca


Dua hari ini, bacaan Ekaristi menghadirkan kesadaran akan diri yang berdosa — melalui kisah anak bungsu dan perempuan Samaria. Ada Bapa yang berlari menyambut kepulangan anak-Nya, dan Yesus yang menawarkan air hidup. Tidak ada jasa manusia yang sebanding dengan berkat luar biasa dari Allah. Orang yang menyadari dosanya tahu bahwa ia membutuhkan pertolongan Allah, seperti seruan, “Tuhan, berilah aku air hidup itu!”
Di hadapan Yesus, tidak ada seorang pun yang dipandang rendah atau hina — termasuk orang Samaria dan mereka yang hidup dalam status pernikahan yang rumit, seperti perempuan yang telah menikah lima kali. Ada skandal yang ia tutupi, hidupnya penuh kelelahan, baik secara fisik maupun batin. Hatinya gelisah, tidak damai, dan hidupnya tidak beres. Namun, perjumpaannya dengan Yesus membuatnya melupakan rasa haus dan masalah hidupnya. Yesus menenangkan hatinya. Ia pun “meninggalkan kendinya” dan menceritakan sukacitanya kepada orang-orang yang sebelumnya ia hindari.
Kita mungkin tidak pernah mengalami kelaparan seperti anak bungsu, atau kehausan seperti perempuan Samaria itu. Namun, kita harus mengakui bahwa kita juga lelah karena hidup yang tidak beres ini. Hidup kita masih diwarnai kemarahan, keangkuhan, kebencian, kepahitan, rasa malu, dan rasa bersalah — yang kadang membuat kita menjauhi orang lain. Kita hanya perlu datang ke “sumur” secara pribadi, berdialog dengan Yesus, dan memohon kepada-Nya, “Tuhan, berilah aku air hidup itu senantiasa.” Sebab penyembahan kita kepada Allah harus dilakukan dalam Roh dan kebenaran.
Tuhan menyentuh dan menyembuhkan luka terdalam di hati kita. Bapa yang baik, yang hatinya terluka oleh sang putra, dan perempuan Samaria — orang asing dengan beban hidup yang berat, kelam, dan melelahkan — keduanya berjumpa dengan wajah Allah yang berbelas kasih. Sakramen Pengampunan Dosa adalah “pelukan Bapa” dan “air hidup” yang diberikan agar hidup kita memancarkan keselamatan. Ruang pengakuan dosa adalah ruang belas kasih Allah, ruang yang membebaskan dari kepenatan hati, ruang yang membuat kita berani kembali berjumpa dengan orang lain — yang sebelumnya kita hindari dengan kepala tertunduk.
Kita diutus untuk mewartakan pembebasan dari ruang kerahiman itu, agar semakin banyak orang percaya dan diselamatkan. Yesus menunggu di sana. Kita tidak perlu menimba air dengan susah payah, tetapi kita mau datang, duduk, dan berdialog dengan Dia. Kita perlu menyadari karunia Allah yang akan kita minta kepada-Nya — dan Ia akan memberikannya.