Berbahagia Meski Menderita, Mungkinkah?
Vol 2. No. 4
BROT
Romo Wulfstan Harris Soerianto, SS.CC
2/1/20262 min baca


Teman-teman semua, beberapa bulan lalu ketika berada di bandara, saya hendak menggunakan mesin self-check baggage. Setelah bagasi ditimbang, saya tidak yakin bagaimana cara menempelkan stiker bagasi. Karena itu, saya bertanya kepada salah satu petugas yang ada. Namun, jawaban petugas tersebut terdengar kasar. Rasanya berlebihan untuk sebuah pertanyaan sederhana. Saya bertanya dengan sopan, tetapi petugas itu menjawab dengan nada menyindir, seolah-olah saya ini bodoh.
Karena ia tetap melakukan apa yang saya tanyakan, maka saya pun tidak mau mempermasalahkan sikapnya. Saya bersikap biasa saja. Entah mengapa, di dalam hati saya saat itu, saya merasa tidak perlu membela diri. Saya yakin Tuhan tidak akan membuat saya malu.
Teman-teman terkasih, saat hendak boarding pesawat, saya melihat petugas yang sama sedang memeriksa boarding pass. Awalnya saya menghindar dan mencoba berbaris di barisan petugas lain, tetapi saya memutuskan untuk pindah ke barisan petugas kasar tersebut karena barisannya tiba-tiba kosong. Saya berkata dalam hati, “Ah, kenapa harus takut dan menghindar?” Ketika tiba giliran saya, petugas itu langsung berkata, “Kamu lagi,” dengan nada yang tidak sopan. Saya tetap bersikap santai dan tidak menanggapi ucapannya.
Hal menarik terjadi saat ia hendak mengembalikan paspor saya. Saat itu ia menjatuhkan paspor saya dan otomatis harus membungkuk di hadapan saya untuk mengambil paspor yang jatuh. Namun lucunya, karena berusaha cepat-cepat mengambilnya, ia malah menjatuhkan paspor saya lagi, sehingga ia harus membungkuk dua kali di hadapan saya.
Saya merasa saya mengambil keputusan yang tepat, yaitu dengan tidak mempermasalahkan sikap kurang ajar petugas tersebut. Jika saya marah atau melawan mungkin hasilnya justru bisa membuat saya repot atau malu sendiri. Justru dengan tetap merendahkan diri dan tidak mencoba menyaingi sikap arogan petugas tersebut, saya jadi bisa melihat bagaimana Tuhan bekerja.
Injil hari ini berbicara tentang penghiburan bagi mereka yang direndahkan. “Berbahagialah orang yang berdukacita karena mereka akan dihibur. Sungguh Tuhan mengubah situasi dimana orang membuat saya malu menjadi situasi dimana saya boleh berbangga dan berbahagia akan Tuhan saya.
Yesus meminta anda & saya untuk tetap berharap dalam Dia, apapun kesulitan & kondisi yang sedang dihadapi. Selama kita setia kepada Dia maka kita tidak akan dikecewakan & semua kekecewaan akan diubahnya menjadi kebahagiaan. Terkadang hal ini tidak langsung terjadi. Mungkin membutuhkan waktu lama, bahkan bisa bertahun-tahun. Namun contoh kecil ini menunjukkan bahwa terkadang Tuhan juga bisa membuktikan perkataan-Nya dengan segera.
Jadi menjawab pertanyaan saya di awal, mungkinkah berbahagia meski menderita? Menurut saya, rasanya agak sulit untuk berbahagia saat sedang menjalani penderitaan. Namun ketika semuanya sudah selesai dan kita melihat bagaimana Tuhan bekerja, maka peristiwa penderitaan, peristiwa mengecewakan tersebut bisa menjadi pengalaman yang berarti dan membahagiakan.