Bersukacitalah karena Tuhan ada
Vol 1 No 37
BROT
Pater Fidelis Regi Waton SVD
12/14/20251 min baca


Minggu Adven ketiga dinamakan „Gaudete“ (bersukatilah). Antifon pembuka misa yang diangkat dari Filipi 4:4-5 mengajak kita: „Gaudete in Domino semper: iterum dico, gaudete. Dominus enim prope est“ (“Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan. Sekali lagi kukatakan: bersukacitalah! Sebab Tuhan sudah dekat“). Tuhan yang dinantikan kedatangan-Nya sudah dekat. Seruan sukacita dipancarkan juga dalam warna liturgis: Bukan lagi ungu, melainkan merah jambu (pink).
Injil mengisahkan: Yohanes Pembaptis, Bentara kedatangan Mesias, sedang berada dalam penjara setelah ia mengritik Raja Herodes. Di tengah situasi hidupnya yang tidak pasti, penuh penderitaan dan ketiadaan kebebasan, ia mempertanyakan, apakah Yesus sungguh Mesias yang dinantikan ataukah Mesias yang dinantikan itu belum datang. Sebagai seorang warga Yahudi yang setia pada tradisi agama, Yohanes Pembaptis tampaknya meragukan kemesiasan Yesus lantaran penampilan Yesus yang sederhana, tidak spektakuler; bukan sebagai pemimpin yang berkuasa, tapi seorang guru yang berjalan keliling sambil mengajar dan berbuat baik.
Atas pertanyaan Yohanes Pembaptis lewat para utusan, Yesus tidak menjawab secara langsung dengan Ya atau Tidak. Jawaban Yesus mereferensikan apa yang dilakukan-Nya: „Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan, dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik.“ Pernyataan Yesus ini memaparkan tanda-tanda munculnya era keselamatan lewat Mesias terjanji sebagaimana dinubuatkan Nabi Yesaya (Yes. 35:5-6.10).
Beruntunglah mereka yang hidup pada zaman Yesus historis. Mereka boleh melihat dan merasakan era Mesianis atau keselamatan. Yang menjadi pertanyaan penting: Mengapa tanda-tanda keselamatan demikian tidak muncul lagi dewasa ini – pasca Yesus historis? Tentu saja kita tidak menutup kemungkinan bahwa Tuhan dan karya-Nya masih terjadi kini dan selamanya. Pertanyaan di atas pada dasarnya diarahkan kepada setiap kita yang mengikuti Yesus. Apa kita melanjutkan segala yang telah dinubuatkan Yesaya dan dirintis Yesus? Dengan cara kita masing-masing, setiap kita bisa mewujudkan pentahiran mata orang buta, menyembuhkan yang lumpuh, menahirkan yang kusta, dan sebagainya – tentu saja bukan secara fisik, tetapi terlebih dalam artian simbolis seperti buta hati dan perasaan yang tuli. Ringkasnya jika kita melakukan karya kasih dan kebaikan, maka di sana kita menyiapkan jalan bagi Tuhan yang dinantikan, di sana muncul masa Mesianis dan ada Tuhan.