Dari Kesedihan Menuju Pengharapan di Emaus
Vol. 2 No. 14
BROT
Romo Benedictus Manullang, Pr,
4/19/20262 min baca


Kematian Yesus telah memporakporandakan orientasi hidup para pengikut-Nya. Sejumlah perempuan memutuskan pergi ke makam sambil menangis. Sementara itu, kedua murid yang tertunduk diselimuti kesedihan memutuskan untuk berjalan ke Emaus. Yesus hadir, menemani perjalanan dan "membakar" hati mereka sekalipun Dia tidak dikenali oleh kedua murid-Nya. Ekaristi ialah perjalanan bersama Dia yang menerangkan seluruh isi Kitab Suci (Liturgi Sabda) dan memecah-mecahkan roti (Liturgi Ekaristi) sehingga hati kita bersukacita.
Nama Emaus mengingatkan sejarah kejayaan orang Israel yang memukul musuh lalu mereka menyanyikan pujian: "Sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!" Sebab pada hari itu telah terjadi keselamatan besar untuk Israel (1 Mak.4:1-25), Memoria itulah yang memberikan keyakinan kepada kedua murid bahwa Yesus adalah Mesias yang jaya, gagah perkasa yang akan mengalahkan semua bangsa penjajah. Mereka keliru, gagal total sebab nyatanya Yesus kalah, mati sebagai orang yang terhukum dan dikutuk oleh Allah (U.21:23). Itulah yang membuat perjalanan mereka tertunduk dan muka muram.
Perjalanan Emaus adalah perjalanan hidup dan keberimanan setiap murid. Terkadang beban kita terlalu berat, terkadang pengharapan kita pudar, terkadang iman kita ragu dan bimbang, terkadang kita tidak merasakan kehadiran dan pertemanan Tuhan di dalam perjalanan hidup ini. Seringkali, kita hanya melihat sepasang jejak kaki yang melangkah. Itulah jejak kaki Tuhan yang sedang menopang beban kita. Yesus tidak meninggalkan kita sendirian, Dia melangkah bersama kita bahkan menopang kita. "Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu" (Yes.46:4a). Yesus menemani perjalanan kita sampai senja kehidupan dan kita telah sampai di tempat tujuan.
Ekaristi adalah sebuah perjalanan panjang Yesus bersama para murid-Nya dalam lintas waktu dan tempat. Dia tinggal bersama-sama kita dan memecah-mecahkan roti.
Yesus menampakkan diri dan kebangkitan-Nya ketika Imam mengangkat tinggi Tubuh dan Darah-Nya sambil memperlihatkan kepada segenap umat beriman. Yesus menghilang dari pandangan mata kita tetapi Dia tinggal dalam tangan kita dalam rupa Roti Ekaristi. Amatlah keliru jika umat hanya mau merayakan Ekaristi untuk menyambut Tubuh Kristus saja dan menilai mendengarkan Sabda Allah tidak penting. Mulailah dengan perjalanan yang membawa seluruh pengalaman hidup, suka dan duka, berhasil dan gagal. Ketika Sabda Allah diperdengarkan, Yesus sedang menjelaskan seluruh isi Kitab Suci, Dia mengobarkan hati kita. Kehadiran-Nya bagi kita tetap ketika Dia memberikan Diri-Nya sebagai Roti yang memberikan hidup kekal. Tuhan Yesus berjalan bersama kita sampai senja kehidupan kita dan hanya jejak kaki-Nya yang tampak di sepanjang jalan kehidupan kita.