Dia yang Mengasihi Kita akan Membangkitkan Kita
Vol. 2 No. 11
BROT
Romo Benedictus Manullang, Pr
3/22/20262 min baca


"Dikasihi oleh Tuhan", beriman dan percaya kepada Yesus Kristus tidak membebaskan kita dari kematian. Satu hal yang pasti, kita akan dibangkitkan oleh Yesus Kristus. Iman akan kebangkitan menuntut kepercayaan yang penuh, tanpa keraguan bahwa Yesus adalah kebangkitan dan hidup, sekalipun terkesan Tuhan datang terlambat untuk menyatakan kemuliaan Allah.
Dalam kisah orang buta sejak lahir yang disembuhkan oleh Yesus, Yesus menyatakan, "Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia." Sedangkan dalam Injil yang baru saja kita dengarkan, Yesus berkata, "Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan."
Penginjil Yohanes menyebutkan beberapa pernyataan diri Yesus tentang diri-Nya: "Akulah roti hidup" (Yoh. 6:35); "Akulah terang dunia" (Yoh. 8:12); "Akulah Pintu" (Yoh. 10:9); "Akulah gembala yang baik" (Yoh. 10:11); "Akulah jalan, kebenaran dan hidup" (Yoh. 14:6); dan "Akulah pokok anggur yang benar" (Yoh. 15:1). Kisah pembangkitan Lazarus merupakan sebuah pernyataan diri Yesus yang paling radikal untuk percaya dan beriman kepada-Nya: "Akulah kebangkitan dan hidup" (Yoh. 11:25). Pembangkitan Lazarus merupakan pekerjaan yang menyatakan kemuliaan Allah. Yesus tidak hanya mampu memelekkan mata orang buta, tetapi kuasa-Nya bisa membangkitkan orang yang sudah meninggal. Keterbatasan iman kita kerap kali membatasi kuasa Yesus hanya pada penyembuhan fisik sebelum seseorang mengalami kematian. Iman bukan tentang percaya bahwa Tuhan "bisa" melakukan penyembuhan penyakit, tetapi percaya bahwa Dia "adalah" Sang Hidup yang akan membangkitkan dan memberikan kehidupan kekal kepada kita.
Kematian adalah milik semua makhluk yang hidup dan peristiwa nyata yang akan dialami setiap orang. Kematian menyatakan bahwa hidup memiliki batas waktu. Setiap hari merupakan perpanjangan waktu hidup kita di dunia, mungkin perpanjangan empat hari seperti Yesus menunda kedatangan-Nya kepada Lazarus. Kematian mengundang kita untuk tidak takut dalam menghadapinya, melainkan tetap percaya kepada-Nya sekalipun terkesan Yesus terlambat untuk membangkitkan kita. Dengan menaruh seluruh kepercayaan kita kepada Yesus, kita akan melihat kemuliaan Allah dikerjakan di dalam diri kita. Satu-satunya jalan untuk menatap wajah dan kemuliaan Allah ialah mati di dalam Kristus untuk dibangkitkan oleh Kristus.
Semua digulingkan oleh Yesus sebab hidup abadi tidak dapat "dikubur" dan dihalangi oleh batu besar sekalipun. Yesus memiliki daya yang menghidupkan. Dengan berseru, "Lazarus, marilah ke luar!" orang yang sudah mati itu bangkit dan hidup. Tidak ada situasi yang terlalu "berbau busuk" atau terlalu mustahil untuk dipulihkan oleh Yesus, Sang Hidup. Di dalam Dia ada hidup. Ia ingin kita mengalami kehidupan di dalam seluruh kemuliaan-Nya. Kita hanya akan mengalami kebangkitan ketika Yesus melepaskan belenggu ikatan kematian kita.
Melalui peristiwa ini, kita diajak untuk melihat bahwa kemuliaan Allah sering kali dinyatakan justru di titik terendah hidup kita. Kematian Lazarus diizinkan terjadi agar kuasa Allah nyata bagi banyak orang. Kita dipanggil untuk percaya bahwa di balik setiap penundaan Tuhan, ada rencana yang lebih besar untuk memuliakan nama-Nya. Seperti Lazarus yang keluar dari kubur dengan kaki dan tangan yang masih terikat kain kapan, kita pun sering kali dipanggil keluar dari "kubur" dosa dan keterpurukan kita. Tuhan ingin kita hidup sepenuhnya, bebas dari belenggu maut, karena di dalam Dia, kematian bukanlah akhir, melainkan gerbang menuju kehidupan yang baru.