Kemiskinan Memampukan Yesus Memikul Salib sebagai Milik-Nya
Vol. 2 No. 12
BROT
Romo Benedictus Manullang, Pr
3/29/20262 min baca


Pekan Suci merupakan perjalanan waktu yang menghadirkan pergumulan dan kontradiksi batin manusia. Lambaian palma dan seruan "Hosana!" segera berubah drastis dengan Kisah Sengsara yang memilukan hati. Pribadi yang dielukan sebagai Raja segera didakwa sebagai Terhukum yang hina pada ketelanjangan Salib. Dengan memikul Salib-Nya, Yesus menyatakan dengan tegas: "tidak ada negosiasi untuk salib." Kamu bisa memeluknya dengan setia atau kamu menolak dan membuangnya.
Allah menjadi manusia melalui jalan kemiskinan dan pengosongan diri yang total. Dia meminjam palungan ternak, Dia meminjam roti dan ikan untuk memberi makan, Dia meminjam ruangan untuk perjamuan bersama murid-Nya, Dia meminjam keledai untuk memasuki kesengsaraan-Nya, bahkan Dia meminjam kubur untuk membaringkan Tubuh-Nya usai penyaliban. Hidup-Nya bukan untuk mencari nama, pujian, pengakuan dari pihak lain apalagi pengangkatan diri sebagai Raja. Hidup-Nya, makanan-Nya lalah melaksanakan kehendak Bapa-Nya dalam ketaatan dan kesetiaan.
Sebagaimana Dia membutuhkan keledai, Dia membutuhkan diri, hidup, hati dan keluarga kita untuk dipakai oleh-Nya guna membawa damai, kasih dan pengampunan. Dia membutuhkan kita yang setia, taat, teguh, tidak takut, yang tidak lari dari Dia dan dari iman kepercayaan kita kepada-Nya teristimewa dalam duka derita hebat yang sedang kita alami. Ketidaksetiaan/pengkhianatan tidak terkait orang asing/musuh melainkan orang terdekat yang menyatakan dirinya sebagai rakyat-Nya dan murid-Nya. Ujian sesungguhnya sebagai pengikut Yesus adalah setia atau tidaknya seorang murid memeluk salib. Meterai Baptis yang kekal, aneka Sakramen yang menyelamatkan dihapus karena semarak kemuliaan yang diperoleh dengan syarat tidak mengakui Yesus: "Bukan, aku bukan murid orang itul" Kita "menjual prinsip iman" karena takut mendapatkan kesulitan jika mengakui diri sebagai pengikut Yesus. Atau karier dan prestasi terhambat karena identitas salib yang kita imani.
Dalam perjalanan memasuki Yerusalem, Yesus menunjukkan kepada kita bagaimana menapaki jalan sulit, berat dan menggoncang selurüh hidup dengan tetap setia memelihara kedamaian dalam hati. Abaikan dan tolak segala godaan untuk melakukan sesuatu seturut cara kita sendiri dan berjuanglah dalam kepatuhan penuh kepada Allah. Kemegahan dunia yang ditawarkan saat pencobaan di padang gurun, kini tampil sangat konkret dalam sorak-sorai rakyat yang mengelukan Yesus sebagai Raja. Kemegahan dan sorak-sorai itu dihancurkan oleh Yesus dengan passion-Nya, kemenangan dan takhtanya ialah salib.
Di saat malam kegelapan dan kesengsaraan hebat yang akan dijalani-Nya, Yesus membutuhkan teman berjaga. Berjaga bersama Yesus selalu berarti berjaga dalam menghadapi penderitaan, salib dan kematian yang akan kita alami pula. Berjaga bersama Yesus berarti memohon dijauhkan dari pencobaan dan diluputkan dari yang jahat. Berjaga bersama Yesus berarti tinggal dalam diam dan keheningan bersama Yesus di Getsemani kita. Keheningan memampukan kita untuk menyikapi dengan lembut, jauh dari kemarahan dan menerima seturut cara Tuhan. Yesus selalu tinggal dalam keheningan guna membangun persatuan dengan Bapa-Nya. Dari keheningan itulah, Dia memperoleh kekuatan untuk mengatasi ketakutan yang menggentarkan. Dari keheningan itulah, Dia memilih untuk menundukkan kehendak kemanusiaan-Nya ke bawah kehendak Bapa-Nya.
Yesus menyatakan kesetiaan-Nya yang tuntas pada Salib sebagai sebuah risiko dari suatu perjuangan, suatu kesetiaan dan ketaatan, pengorbanan dan cinta yang total dan sempurna. Minggu Palma mengajarkan kita untuk setia berjalan bersama-Nya menuju Kalvari. Salib tidak terelakkan, tidak ada negosiasi untuk salib: peluklah erat dan kita akan bersorak"Hosana", mengakui Yesus sebagai Raja sekalipun perjuangan kita berat, pahit dan tak tertahankan. Salib adalah jalan untuk mencapai keselamatan, kesempurnaan dan
kebahagiaan. Barangsiapa bertahan sampai kesudahannya akan selamat (Mat.24:13).