Keputusan Yosef: Partisipasi dan Tidak Lari
Vol 1 No.38
BROT
Ambrosius Lolong Pr
12/21/20252 min baca


Teman-teman yang terkasih,
Ada satu adegan menarik dalam film Harry Potter, sebelum pertempuran terakhir dengan Voldemort. Percakapan Harry dengan Dumbledore di King’s Cross. Ada dua poin, yaitu pertama, Harry bertanya kepada Dumbledore, apakah dia memiliki pilihan? Tentu saja, dia punya pilihan untuk tetap “mati” atau kembali lalu mengalahkan musuhnya. Kedua, Harry bertanya, apakah dia bisa mengalahkan musuhnya karena musuhnya punya kekuatan besar. Jawab Dumbledore, pertolongan akan membantunya. Harry tidak seorang diri, tetapi dia memiliki banyak orang yang akan menolong dan mendukungnya. Kemudian, Harry memilih untuk kembali dan melanjutkan pertempurannya. Penggalan kisah dan percakapan yang menarik dan mungkin terjadi dalam hidup kita. Lalu, bagaimana kita dapat memiliki sikap yang tepat bila kita memiliki keraguan yang amat besar?
Teman-teman yang terkasih,
Injil pada minggu keempat adven ini menarik untuk kita renungkan bersama. Bagaimana Yosef menentukan pilihan yang sangat penting dalam hidupnya, dan juga bagi kehidupan orang banyak. Matius mengisahkan situasi Yosef pada saat itu. Yosef baru saja bertunangan dengan Maria dan mendengar kabar bahwa Maria mengandung dari Roh Kudus. Selain itu, Yosef juga dikisahkan sebagai pribadi yang tulus. Hanya saja, dia bermaksud menceraikan Maria agar tidak merusak nama istrinya. Dia bermaksud menanggung semuanya sendiri sebagai pribadi yang tidak bertanggung jawab. Ketulusan hatinya terhimpit oleh keraguan, kecemasan dan ketakutan. Keputusan awalnya adalah menceraikan Maria
Namun, Matius menuliskan bahwa Yosef mempertimbangkan keputusan awalnya dan datanglah malaikat Tuhan. Malaikat itu hadir dalam mimpi dan menjelaskan semuanya. Sebuah penjelasan akan misteri keselamatan Allah, bahwa anak tersebut akan menyelamatkan umat Allah dari dosa. Sebuah penjelasan pula akan perannya sebagai pemenuhan nubuat nabi. Malaikat menutup pemberitahuan itu dengan sebuah pesan, yaitu Imanuel, Allah menyertai kita. Sebuah pesan bukan hanya untuk semua orang. Sebuah pesan bukan hanya untuk memenuhi nubuat nabi. Melainkan, sebuah pesan juga untuk diri Yosef, bahwa Allah menyertai dirinya. Akhirnya, Yosef bangun dan melaksanakan perintah Tuhan. Dia mengganti keputusan awalnya, menyadari penyertaan Allah dan partisipasi dalam rencana Allah.
Teman-teman yang terkasih,
Terkadang situasi hidup kita mengalami tegangan yang tidak mudah antara sesuatu yang kita inginkan dengan kenyataannya. Mungkin pada beberapa kasus ringan, kita dapat mentolerirnya dan beradaptasi dengan keadaan. Akan tetapi, bagaimana dengan kasus besar dan menyangkut eksistensi diri kita. Tidak jarang, kita akan memilih untuk menghindar dan lari. Dan, tidak sedikit pula, banyak berakhir dengan sebuah penyesalan. Lalu kita mungkin berpikir, apakah berubah dan beradaptasi berarti bahwa kita akan kehilangan jati diri? Kehilangan tujuan hidup? Kehilangan segala yang kita perjuangkan? Bagaimana kita akan mengambil keputusan dengan tepat sehingga kita siap menghadapi kenyataan?
Santo Yosef mengajarkan kita sebagai manusia sepenuhnya. Manusia dengan sejuta perasaan dan pikiran. Dan, kita bisa membuat keputusan apa pun. Tetapi, dia mempertimbangkan semuanya dengan bijak. Pertama, dia melihat dengan sungguh keadaan dirinya, situasi masyarakat dan pandangan norma yang berlaku. Dia menyadari sebagai orang Israel, keturunan daud, hubungan pertunangan dan efek buruk dari situasinya. Memang bukan situasi ideal, tetapi dia menerimanya. Kedua, dia mempertimbangkan kembali keputusan awalnya. Dia tidak hanya membuat keputusan sekali jadi, tetapi mempertimbangkan kembali. Bahkan termasuk pesan Tuhan dalam mimpinya. Ketiga, dia memutuskan berdasarkan terang iman. Sikap keterbukaan dan percaya membuat dirinya memilih untuk tetap berjalan bersama Maria. Justru, Santo Yosef tidak kehilangan dirinya tetapi sebaliknya dia dilengkapi dengan rahmat dan penyertaan Allah. Sungguh Israel yang percaya kepada Allah dalam keadaan apa pun.
Natal. Tuhan hadir di tengah kita. Pertanyaannya: siapkah kita berpartisipasi dalam perbuatan kasih Allah dan tidak lari dari tanggung jawab sebagai seorang katolik? Belajar dari Santo Yosef, kita diundang untuk terlibat, terbuka dan percaya. Menerima situasi diri kita, menguji terus keputusan kita dan merenungkannya dalam terang iman. Langkah yang perlu bagi kita, agar keputusan dan hati kita selalu teguh, untuk tujuan yang lebih luhur dan nyata bagi diri sendiri dan sesama. Semoga kita boleh dan selalu membuat keputusan hidup yang sesuai dengan kehendak Allah. Tuhan menyertai kita selalu.