Kesusahan Sehari, Cukuplah untuk Sehari
Vol. 2 No. 2
BROT
Romo Bernardus Bradja Hartono Saputro, MSF
1/18/20262 min baca


Menurut suatu dongeng India kuno, ada seekor tikus yang selalu tertekan karena takut kepada seekor kucing. Seorang tukang sihir merasa kasihan kepadanya lalu mengubahnya menjadi seekor kucing. Tetapi kemudian ia menjadi takut kepada anjing. Maka tukang sihir itu mengubahnya menjadi anjing. Tetapi ia mulai takut kepada harimau. Maka tukang sihir itu mengubahnya menjadi harimau, yang merasa takut kepada pemburu. Tetapi sebagai pemburu, dia pun takut kepada petir. Pada saat itu tukang sihir menyerah. la mengubahnya menjadi seekor tikus lagi dan berkata, “Apa pun yang saya lakukan tidak akan membantumu karena engkau mempunyai hati seekor tikus.”
Dongeng India kuno tentang seekor tikus yang selalu diliputi ketakutan menyentuh sisi terdalam hidup manusia. Tikus itu berubah bentuk berkali-kali—menjadi kucing, anjing, harimau, bahkan pemburu—namun ketakutannya tidak pernah lenyap. Masalahnya bukan pada wujud luarnya, melainkan pada hatinya. “Engkau mempunyai hati seekor tikus,” kata sang tukang sihir. Kisah ini mengingatkan kita bahwa perubahan lahiriah, kekuatan, jabatan, atau keamanan semu tidak akan membebaskan kita dari ketakutan bila hati kita tetap dikuasai kecemasan.
Sabda Tuhan hari ini menyingkapkan kebenaran yang sama. Dalam Injil Matius, Yesus berkata dengan tegas: “Janganlah kuatir akan hidupmu” (Mat 6:25). Kekuatiran sering membuat manusia hidup seperti tikus dalam dongeng itu—selalu waspada, selalu terancam, selalu takut kehilangan. Yesus mengajak kita beralih dari hati yang takut kepada hati yang percaya. la mengingatkan bahwa Bapa di surga memelihara burung-burung di udara dan bunga-bunga di ladang; apalagi kita yang jauh lebih berharga di mata-Nya. Kekuatiran tidak menambah satu hasta pun pada hidup kita, tetapi justru menggerogoti kedamaian batin.
Nabi Yesaya melukiskan janji Allah bagi mereka yang percaya: “padang gurun akan bersorak-sorai, yang lemah akan dikuatkan, dan yang takut akan diteguhkan hatinya” (Yes 35:1-4). Ini adalah gambaran hati manusia yang dipulihkan oleh Tuhan. Ketika Allah hadir, ketakutan tidak lagi menjadi penguasa hidup. Jalan yang dilalui orang percaya disebut "jalan kudus", jalan di mana air mata digantikan oleh sukacita dan kecemasan oleh pengharapan.
Rasul Paulus dalam surat kepada jemaat Filipi memberi kesaksian pribadi: “Aku dapat menanggung segala perkara di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Flp 4:13). Paulus tidak mengatakan bahwa hidupnya bebas dari kesulitan, tetapi hatinya berakar pada Kristus. Inilah kunci kebebasan sejati: bukan berubah menjadi "harimau" yang tampak kuat, melainkan memiliki hati yang bersandar penuh pada Tuhan.
Renungan ini mengajak kita bertanya pada diri sendiri: hati macam apa yang kita miliki? Hati yang terus-menerus dikuasai ketakutan, atau hati yang percaya dan berserah? Tuhan tidak sekadar ingin mengubah keadaan luar kita, tetapi terutama membarui hati kita. Bila hati kita dipenuhi iman, maka apapun situasinya, kita tidak lagi hidup sebagai "tikus yang ketakutan", melainkan sebagai anak-anak Allah yang berjalan dalam damai, sukacita, dan kepercayaan penuh kepada-Nya.