Lihatlah Keselamatanmu
Vol. 2 No. 10
BROT
P. Benedictus Manullang, Pr
3/15/20262 min baca


“Orang ini buta supaya pekerjaan-pekerjaan Allah dapat dinyatakan di dalam dia.” “Pekerjaan-pekerjaan Allah” yang Yesus maksudkan tidak lain ialah kisah penciptaan ketika Allah menciptakan terang pada hari pertama dalam penciptaan (Kej.1:3). Demikian juga ketika Yesus mengaduk ludah ke tanah seperti ketika Allah membentuk manusia dari debu tanah. Dalam diri si buta, Yesus memperlihatkan pekerjaan Allah yaitu penciptaan terang ketika mata si buta disembuhkan.
Guna memahami perikop Injil Yohanes ini, patutlah kita membaca Kitab Ulangan 28. Kitab ini dibagi atas 2 bagian: ay.1-14 berisi tentang BERKAT sedangkan ay.15-46 berisi tentang KUTUK. Dalam pandangan orang Yahudi, kebutaan termasuk di dalam 52 kutukan dari Allah bagi orang berdosa terutama kutukan nomor 14: “Tetapi jika engkau tidak mendengarkan suara TUHAN, Allahmu dan tidak melakukan dengan setia segala perintah dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka segala kutuk ini akan datang kepadamu dan mencapai engkau: Tuhan akan menghajar engkau dengan kegilaan, kebutaan dan kehilangan akal” (Ul.28:28). Yesus dengan tegas menolak apa yang tertulis dalam Kitab Ulangan tadi sebab tidak ada keterkaitan antara penyakit dan dosa.
Melalui tindakan penyembuhan si buta, Yesus mau menyatakan bahwa manusia dan keselamatannya yang sangat diutamakan oleh Yesus. Jika manusia dihormati dan dimuliakan pastilah Allah dihormati dan dimuliakan sebab tidak mungkin seketika manusia mencintai manusia lain seketika itu tidak menghormati Allah. Sebaliknya, sejarah justru mencatat jutaan manusia dibunuh untuk menyatakan penghormatan/pembelaan kepada Allah. Apakah Allah begitu lemah sehingga Dia patut dibela? Pemimpin keagamaan Yahudi begitu memegang teguh peraturan Sabat dengan mengesampingkan keselamatan manusia maka mereka berpendapat atas Yesus: “Orang ini tidak datang dari Allah, sebab Ia tidak memelihara hari Sabat.”
Kesembuhan si buta dan pengakuannya bahwa Yesus yang telah menyembuhkannya membuat dia diinterogasi hebat sebanyak 2 kali. Orangtuanya pun takut dikucilkan jika mengakui bahwa anaknya disembuhkan oleh Yesus. Satu pengakuan tegas si buta membuat dirinya dikucilkan: “Satu hal yang aku tahu, yaitu: Aku tadinya buta dan sekarang dapat melihat.” Yesus mendekati si buta yang telah sembuh dengan melakukan dialog: “Percayakah engkau kepada Anak Manusia?” Jawabnya, “Siapakah Dia, Tuhan, supaya aku percaya kepada-Nya.” “Engkau sudah melihat Dia,” Dialah yang sekarang sedang berbicara dengan engkau.” Tuhan Yesus adalah cahaya/terang dunia. Dia sudah pernah mengoleskan kita untuk pertama kali dalam pembaptisan yang membuat kita melihat “pekerjaan Allah” yaitu terang yang membebaskan kita dari kegelapan dosa lewat kelahiran baru. Dia mengoleskan kita yang buta akibat dosa pribadi yang kita buat dengan Sakramen Tobat. Melalui Ekaristi yang semakin sering kita rayakan dalam masa prapaskah dan Paskah serta menyambut Tubuh-Nya yang Kudus, kita akan disembuhkan dari segala kebutaan. Si buta mendengarkan Yesus terlebih dahulu sebelum dia dapat melihat. Setelah melihat, dia pun melihat Yesus sebagai pribadi yang disebut Mesias dan menyembah-Nya. Pentingnya pendengaran dan penglihatan.
Masa prapaskah menjadi kesempatan yang terbaik untuk disembuhkan oleh Yesus dari segala kebutaan supaya kita hidup di dalam terang. Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus mengingatkan kita: “Hiduplah sebagai anak-anak terang. Karena terang hanya berbuahkan kebaikan, keadilan dan kebenaran.” Dengan memberikan terang kepada orang yang dilahirkan buta, Yesus memberikan segala kebaikan Allah. Dengan memberikan terang kepada kita di masa prapaskah ini, Yesus hendak memberikan keselamatan Allah kepada kita.