Melaksanakan Delapan Sabda Bahagia Menjadikan Kamu Garam dan Terang Dunia

Vol 2. No. 5

BROT

Romo P. Benedictus Manullang

2/8/20262 min baca

Garam dipergunakan untuk menjaga kesegaran makanan: segala jenis daging digarami agar tidak membusuk, tahan lama dan tetap sehat. Garam suka ditaburi -secara simbolis - atas dokumen dan atas ikatan perjanjian resmi untuk menyatakan bahwa apa yang tertulis atau apa yang telah disahkan itu tidak akan mengalami perubahan. Sejak PL -garam telah dipakai sebagai lambang kesetiaan Allah pada perjanjian-Nya dengan umat-Nya dan kesetiaan umat Israel dengan Yahwe seperti tertulis dalam Kitab Imamat: “...garam menandakan perjanjian Allah dengan kamu. Jadi semua persembahan harus diberi garam (bdk. Im. 2:13; Bil.18:19).”

“Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan?” Artinya adalah bahwa kalau murid-murid hanya mendengarkan sabda bahagia tetapi tidak melakukan sabda Yesus - mereka adalah “orang bodoh” seperti orang yang membangun rumahnya di atas pasir (Mat 7:24-27). Garam yang tawar-bodoh adalah orang yang hanya mendengarkan tetapi tidak melakukan sabda Yesus. Jika garam itu menjadi bodoh, tidak memenuhi fungsinya, tidak berguna lagi, maka dibuang di jalan dan diinjak orang. Yesus bagaikan garam yang telah melarut-hanyut ke dalam keruwetan hidup manusia tanpa kehilangan identitas-Nya. Yesus mengingatkan komunitas-Nya, “Kalian telah menerima Delapan Sabda Bahagia, kalian harus berkomitmen turun tangan dan bekerja keras untuk mengurangi penderitaan manusia, untuk mendukung kehidupan dan kebahagiaan manusia – dengan melayani – “dengan berbagi rotimu untuk orang yang lapar, membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, memberi pakaianmu untuk mereka yang telanjang, tidak menyembunyikan diri dari kebutuhan orang lain” (bdk. Yes.58:7).

“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku” (Mzm 119:105).

Tidak masuk akal kalau pelita yang bernyala diletakkan di bawah gantang. Pertama, sebab di bawah gantang tidak ada oksigen - maka Pelita di bawah gantang akan mati. Kedua, karena di bawah gantang cahaya pelita kehilangan maknanya dan peranannya. Maka Yesus mengingatkan murid-murid-Nya agar mereka tetap merupakan pelita di atas kaki dian yang menerangi semua orang di dalam rumah itu dengan melakukan Delapan Sabda Bahagia. Rumah adalah masyarakat di mana komunitas Yesus hidup. Rumah adalah masyarakat dengan segala situasi/keadaan, kebutuhan yang ada di lingkungan terdekat/sekitar kita.

Akhirnya - Yesus menyapa komunitas murid-murid-Nya dengan berkata, “Kamulah Kota yang terletak di atas gunung!” Komunitas Yesus -para murid- menjadi “kota” yang memancarkan terang di tengah kegelapan dengan menghidupi kedelapan Sabda Bahagia yang telah Yesus ajarkan. Hendaknya orang Katolik memancarkan perbuatan saling mengasihi yang menjadikan orang lain kagum karena keindahan warna kasih. Kasih itu ibarat CAHAYA, yang menerangi, yang menghangatkan dan menembus sekujur tubuh, yang memberi kehidupan bahkan di tempat yang dalam. Kasih itu ibarat CAHAYA, “ketika kita tidak lagi mengenakan kuk kepada sesama, tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah, ketika memuaskan hati orang yang tertindas” (bdk. Yes.58:9-10).