Murnikan Hati agar Jangan Jatuh ke dalam Dosa
Vol. 2 No. 6
BROT
Romo P. Benedictus Manullang
2/15/20262 min baca


Allah kita tidak menyuruh orang menjadi fasik dan tidak memberi izin kepada siapa pun untuk berdosa. Dia mengundang kita untuk membenahi diri dengan membuang kesombongan hidup keagamaan kita dan membangun semangat pertobatan lewat "manajemen hati”, yaitu mengolah kemarahan dan kemurnian hati.
Paulus memberitakan hikmat Allah, yaitu Yesus Kristus, yang hanya bisa diterima, dipahami, dan diimani berkat karunia Roh Kudus yang menyatakan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah. Yesus datang untuk menggenapi hukum Taurat dan kitab para nabi dengan melakukan penyempurnaan lewat pengajaran cinta kasih-Nya. Pengajaran kasih dari Yesus menanamkan benih kesetiaan untuk menghidupi ajaran, peringatan, dan pencarian Tuhan dengan segenap hati. Kesadaran ini akan menjauhkan kita dari kesempatan untuk berbuat dosa.
Sebuah alarm peringatan keras telah Yesus bunyikan: “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan para ahli Taurat dan orang Farisi, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.” Yesus memberikan pendidikan tentang "manajemen hati": “Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu, dan hujat" (Mat. 15:18-19). Memasuki masa Prapaskah, masa pertobatan dan pembenahan diri, kita harus mengupayakan kesetiaan untuk menertibkan dan menjadikan benar hidup keagamaan kita. Kendalikan kemarahan, tindakan memfitnah, sumpah palsu, pencemaran diri dengan mengubahnya menjadi kedamaian, kemurnian hati, dan hidup yang benar.
Yesus memperluas jangkauan perintah yang melampaui tindakan pembunuhan, yaitu hingga ke akar penyebabnya: pikiran, perasaan, dan motivasi yang mendorong orang untuk membunuh. Yesus menyadarkan kita untuk mengelola masalah kejahatan ketika itu masih bersemayam dalam hati sebelum terungkap menjadi sebuah perbuatan atau kata-kata jahat yang keluar dari mulut. Begitu hati kita benar, kita tidak akan lagi tergoda untuk membunuh orang lain. Santa Teresa dari Kalkuta mengatakan: “Jika Anda menghakimi orang lain, Anda tidak punya waktu untuk mengasihinya.” Sebab seluruh perhatian Anda hanya terfokus untuk menghakimi orang lain saja.
Satu tema fundamental dan mendasar dari kehidupan kita yang diangkat oleh Yesus ialah hidup keluarga atau perkawinan. Perkawinan termasuk di dalam tata penciptaan dan keselamatan Allah. Allah yang menciptakan, memelihara, dan memberkati perkawinan Kristiani. Allah menjadikan perkawinan sebagai misteri kehadiran-Nya yang menyelamatkan dan menghadirkan sukacita kasih-Nya bagi pasangan suami-istri. Perkawinan menjadi bentuk dan wujud cinta kasih Allah yang paling indah dan luhur. Keindahan dan keluhurannya tidak boleh dicemari, melainkan terus dirawat dalam kesetiaan pemeliharaan kemurnian hati. Dalam konteks kemurnian hati, memandang orang lain untuk menginginkannya saja sudah merupakan perzinahan di dalam hati. Janji perkawinan merupakan pernyataan sadar dan penerimaan kesanggupan untuk berbuat "ya" terhadap apa yang dijanjikan. Inilah yang harus dimurnikan terus-menerus, sebab segala penyimpangan atau "tidak ya" terhadap janji perkawinan telah menodai dan merusak kemurnian perkawinan dan imamat.
Yesus memberikan penegasan bahwa perkawinan hanya dapat dipelihara dan dipulihkan kembali dengan kesatuan pengampunan dan kasih. Pengampunan yang memampukan orang untuk menerima pasangan seperti apa adanya dia dalam ketidaksempurnaan. Pengampunan itu menyuburkan, menyehatkan, dan memberikan hidup yang baru. Yesus mengajak setiap murid untuk meminta berkat bagi orang yang mengutuk dan berdoa bagi orang yang mencaci kita (bdk. Luk. 6:28). Tidak mampukah kita untuk melakukannya kepada pasangan ketika dia melakukan kesalahan? Kasih harus terus-menerus dirayakan dalam hidup perkawinan. Kasih yang membebaskan dan memurnikan orang untuk tetap sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri, tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopan, tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah, tidak menyimpan kesalahan, menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu. Kasih yang tidak berkesudahan (bdk. 1Kor. 13:4-8). Pasanganku bukanlah musuh, melainkan pribadi yang aku pilih secara sadar untuk aku cintai dalam ketidaksempurnaan cintaku. Kenakanlah kasih sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan (Kol. 3:14). Selamat berbahagia, berpesta dalam kelimpahan anggur sukacita kasih dalam kehidupan perkawinan kalian.